Benda kesayangan

Sendal ini dulu difoto sewaktu aku lagi magang diluar kota, sekitar dua setengah tahun yang lalu. Sendal ini adalah pemberian (lebih tepatnya, minjem tapi nggak dibalikin) dari sang istri. Sendal inilah yang dipakai sehari-hari selama diluar kantor. Kalau dikantor diperbolehkan memakai sendal, sudah pasti sendal ini juga akan kupakai di kantor.

Mari belok sebentar ketopik yang lain, aku adalah tipikal orang yang sulit sekali berbaur dengan lingkungan baru, termasuk juga lingkungan dimana aku tidak akan hidup disana selamanya, contoh : kantor magang, kampus. Dua tempat tersebut bukanlah tempatku hidup untuk selamanya, suatu saat aku pasti keluar dari tempat itu dan menjalani hidup yang sebenarnya.

Akibatnya, aku hanya punya sedikit kenalan. Percaya atau tidak, dikampusku aku hanya punya 2 teman yang cukup akrab karena kami sekelas, serta beberapa teman (kurang dari 15) yang “sekedar menyapa/kusapa” ketika berpapasan. Sisanya hampir tidak kukenal, dan hampir tidak pernah kusapa/ajak ngobrol, terkecuali kalau ada keperluan penting.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi orang yang “tertutup”, tapi begitulah adanya. Biasanya untuk mengatasi kesepian, aku selalu ditemani benda-benda yang kubawa dari rumahku. Benda-benda pemberian istri seperti gelas, miniatur gitar Ibanez, sendal, dll selalu bisa menghibur. Benda-benda itu seperti memberikan semangat sekaligus menceritakan kembali untukku tentang indahnya masa laluku. Kalau boleh dibilang, benda-benda itulah temanku yang sebenarnya. Tapi tentu saja aku tidak pernah ngobrol dengan benda-benda itu seperti orang gila.

Kembali ke masalah sendal, di kampusku, para dosen tidak terlalu risih dengan penampilan mahasiswanya, mulai dari gadis-gadis bego yang pakai baju minim di kelas (bego karena mereka ngebiarin dirinya jadi tontonan umum dengan baju2 minim), hingga pria-pria sok rapper datang dengan penampilan super aneh. Jadi aku juga tidak merasa terlalu “berlebihan” jika pakai sandal dikelas. Oh iya, sendal ini (dan sendal-sendal sebelumnya) adalah pemberian istri.

Sekarang yang menjadi masalah, sendalnya sudah mulai usang (karena dipakai kemana2). Aku jadi bingung bakal pakai apalagi kalau sendal ini sampai putus, mungkin bakal pakai sepatu kecil bekas SMA dulu. Mencari sendal baru?, nggak akan ada deh sendal kayak gini selain di kampung halaman. Sayang, sendalnya tidak bisa kufoto disini, karena kamera ponsel juga sudah tidak bisa digunakan. Kalau si istri lagi baca blog ini, beliin sendal lagi dong mah :p.

Lastly, aneh juga aku posting soal ginian, tapi lagi pengen cerita aja. Intinya postnya sendiri nggak tahu. Back to coding aja deh.

Pos ini dipublikasikan di post. Tandai permalink.

3 Balasan ke Benda kesayangan

  1. chrisnanice berkata:

    Iya entar dibeliin…….

  2. I n U berkata:

    Kwkwkwkwkw
    beliin Selusin ya………….. :))

  3. Anonim berkata:

    Hqhah… ya ntar gua kirim 6 truk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s